Assalamu'alaikum ^_^

Yuk kita perbanyak membaca buku dan mendengarkan kajian, Let's Fastabiqul khoirot !

Showing posts with label Serial Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Serial Hikmah. Show all posts

Wednesday, January 25, 2017

Bicara Hati #2 - Menghidupkan Hati dalam Kesederhanaan


Tak terasa hari terus berganti,
Sang fajarpun semakin memudar, 
bersama lirihnya lantunan ayat ilahi.
Tubuh yang lemah tak berdaya itu perlahan beranjak bangun.
Dalam doanya rasa syukur senantiasa ia panjatkan,
atas segala nikmat yang telah Allah curahkan.
Nikmat hidup, islam dan iman.

Nampak dari layar handphone ada satu pesan,
oh ya... ia baru tersadar, mungkin itu pesan balasan dari ibuknya
kemarin malam dia mengabarkan kalau kondisinya,
bercerita tentang pengalaman baru di tempat ia bekerja, 
dan yang paling berkesan adalah rasa bahagia,
ketika telah mendapat gaji pertama. ^^

Bismillah...
dalam sms yang singkat ibuk menulis

" Ya Alhamdulillah semoga barokah Am, 
disyukuri jangan melihat jumlahnya
yang kita cari keberkahannya.
Kelihatannya sedikit tapi insyaAllah 
klu kita syukuri akan bisa mencukupi.
Contohnya Bapak dulu, walaupun dulu gaji belum banyak 
dan belum sertifikasi tapi bisa nabung untuk haji,
jangka 10 tahun alhamdulillah Bapak dan Ibuk bisa haji.
Setiap gajian menyisihkan 400 ribu. Alhamdulillah bisa.
Syaratnya satu, kamu harus bisa hidup sederhana "

Perlahan air mata kerinduanpun menetes 
bersama untaian kalimat syukur 
atas kasih sayang yang telah Allah anugrahkan
Sebuah kalimat yang selalu bapak dan ibuk sisipkan 
dalam setiap nasehatnya kepada para putra putrinya
" sederhana "

Tuesday, January 24, 2017

Bicara Hati #1 - Cinta Seorang Hamba


Kurang lebih 24 tahun yang lalu, 
terlahir seorang hamba dari sebuah keluarga yang cukup beragama
lahir dari pasangan seorang wanita pembina asrama
dan lelaki paruh baya yang saat itu menjadi seorang guru agama
mereka tinggal dalam sebuah gubuk sederhana 
penuh dengan ketaatan pada imamnya

Sejak kecil ia menjalani hidupnya dalam bimbingan iman dan taqwa
setiap hari ia selalu diingatkan oleh orang tunya
"Dek... sudah waktunya sholat..."
"Dek... jangan lupa TPA"
"Dek... ayo hafalan dulu"
"Dek... nderek bapak ngaji nggih..."
Sungguh, sebuah kenangan yang begitu indah
senantiasa berkesan karena setiap lembarnya tersirat hikmah

Hampir setiap hari bapak dan ibuk selalu mengingatkan hatinya, 
untuk selalu ingat kepada Allah, kontak dengan Allah.
Apapun bentuknya, entah itu sholat, berdoa, belajar, tpa, ngaji, hafalan dll
sering kali bapak mengajak dia untuk ikut menemani mengisi pengajian,
dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung.
Belum banyak yang dia fahami tentang apa yang disampaikan,
hanyalah kecintaan pada bapaknya, ia setia membersamai.

Sampai pada akhirnya,
kecintaan itu mulai tumbuh pada apa yang disampaikan
tidak hanya cinta pada bapak, majlis dan jamaahnya, 
ia juga mencintai apa yang diajarkannya.
tidak hanya aktif mendatangi pengajian, 
namun ia juga aktif membantu segala persiapan

Semesta rasa yang tumbuh itu semakin merekah indah, ketika ia tumbuh dewasa.
Tahap demi tahap ia lewati dalam perjuangan tholabul 'ilmi 
Semua teladan dan nasehat dari bapak dan ibuknya,
senantiasa tumbuh, layaknya benih yang tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Memberikan keteduhan dan manfaat dalam setiap saat.

Kecintaannya pada agama, dakwah dan jihad
menguatkannya untuk tetap semangat menjadi muslim yang kaffah
senantiasa bermujahadah dan istiqomah 
dalam syukur, ingat dan taat.

Tak ada yang hadir dihatinya, melainkan adalah segala sesuatu,
yang menjadikan hatinya semakin cinta pada tuhannya.
Adalah keresahan ketika ia melihat adala segala sesuatu,
yang membuat hatinya lalai dan lupa pada tuhannya.

Tibalah saatnya rasa cintanya diuji oleh Allah,
Masanya bermain, belajar, dan bekerja semuanya telah ia jalani,
Ada sebuah masa dimana hatinya mengagumi sosok sepertinya,
mencintai agamanya, orang tuanya, saudaranya dan aktif dalam beragama.
Allah menguji dengan banyaknya kupu-kupu indah yang terbang di taman hatinya.
Ada yang datang dengan amalan tahfidznya,
ada yang datang dengan ketrampilannya memasakknya,
ada yang datang dengan kepintaran dan kecerdasannya,
ada yang datang dengan kesholehannya,
ada yang datang dengan usaha keluarganya,
ada yang datang dengan kecantikannya,
ada yang datang dengan kasih sayangnya dalam mengajar

Thursday, January 12, 2017

Serial Berkah #10 - Allah Berkahi Usiaku


Siapa yang tidak kenal dengan kitab Riyadhus Shalihin? Ya, penulisnya adalah Al Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala, ulama abad 7 Hijriyah yang berasal dari Suriah. Kitab ini, kitab yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala. Rasanya tidak ada masjid di muka bumi ini yang tidak kenal kitab Riyadhus Shalihin. Bahkan berapa banyak di rumah-rumah muslimin memiliki kitab yang luar biasa ini, kitab hadist Riyadhus Shalihin.

Padahal kitab Riyadhus Shalihin, terhitung salah satu kitab yang tipis dibandingkan dengan karya-karya An Nawawi yang lainnya. An Nawawi rahimahullahu ta’ala memiliki tulisan di berbagai bidang ilmu; fikih, hadist, menjelaskan kitab-kitab hadist, mustholah hadist, bahasa, tauhid, berbicara juga tentang geografi dan seterusnya. Beliau menulis di dalam banyak ilmu. Tentu kitab Arba’in yang tipis hanya 42 hadits kita juga tahu, tapi isinya luar biasa sehingga banyak dikenal saat hari ini. Dan bahkan menjadi standar awal bagi mereka yang ingin menghafal hadits. Ada Raudhotholibin, ada Al Minhaj yang merupakan penjelasan Shahih Muslim yang terbaik. Kemudian ada kitab fikih yang sangat terkenal Al Majmu Syarhu Muhadzab, Tadzhibul Asma’ wa Lughot, Al Adzkar An Nawawi, dan seterusnya. Sangat banyak karyanya.

Kalau dibandingkan dengan usianya Imam Nawawi, ternyata sangat singkat dibandingkan karyanya. Maka dalam satu hari dibagi usianya, An Nawawi menulis beberapa bab. Dalam satu buku, kita tahu ada berapa bab. Itu kalau dibagi dengan usianya, padahal kita tahu tidak mungkin orang ketika lahir langsung menulis buku. Perlu berilmu dulu, menjadi ahli ilmu kemudian baru menulis buku.

Mari kita fikirkan, berapa sekarang usia kita dan apa yang sudah kita lakukan? Mari kita lihat bagaimana kesibukan An Nawawi rahimahullahu ta’ala yang ternyata Allah panggil di usia yang masih cukup muda yaitu 45 tahun. An Nawawi berkata, “Setiap hari saya belajar 12 pelajaran.” Subhanallah, satu hari 12 pelajaran. Dan dia belajar baik syarhan wa thoshihan, baik penjelasannya atau untuk membenarkannya kalau ada yang salah.

Ada Al Washit kemudian kitab Al Muhadzab, Al Jama’ Baina Shahihain, ada Shahih Muslim, kitab Al Luma’ ibnu Jinni dalam masalah Nahwu, ada Ishlahu Mantiq Ibnu Siqit dalam masalah bahasa, kemudian ada dalam Ushul Fikih ada At Tashrif, Al Luma’ Abu Ishaq, Al Munatqhof Fakhrudin Arrazi. Luar biasanya, kitab-kitab ini dipelajari dalam satu hari. Dia mempelajari bahkan kemudian dia mengatakan: Saya mencatatnya, saya memberikan penjelasannya, kemudian saya menjelaskan apa yang sulit, menjelaskan kata-katanya, kemudian melihat secara bahasa, dan seterusnya. Maka dari itu, usianya hanya 45 tahun tetapi karyanya lebih panjang dari usianya, bahkan menjadi karya yang hidup setelah dia tiada.

An Nawawi berkata, “Wabarokallahuli fi wakti wasytigholi wa a’nani ‘alaih.” (Allah memberkahi waktuku, kesibukanku, dan Allah membantuku dalam hal itu).

Ini penting! Jangan sekadar sibuk dan jangan sekadar usia panjang. Apalah artinya kesibukan melimpah, usia panjang, kesempatan banyak, tetapi tidak diberkahi dan tidak ditolong Allah. Karena itulah, maka mari kita berdo’a dan melakukan hal yang membuat Allah ridho. Agar berapa pun usia kita yang Allah berikan itu diberkahi. Agar semua kesibukan kita adalah kesibukan yang diberkahi juga dan ditolong oleh Allah subhana wa ta’ala.

Semoga usia kita adalah usia yang diberkahi Allah. Berapa pun yang Allah berikan, kesibukan kita adalah kesibukan yang menghasilkan hal-hal yang terus hidup, bahkan setelah kita tiada nanti.

Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Serial Berkah #9 - Allah Berkahi Malam Pengantin Kalian


Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyampaikan kisah tentang ibunya sendiri, wanita mulia yang mengantarkannya menjadi orang besar yang dekat dengan Rasul shallahu ’alaihi wa sallam, yaitu Ummu Sulaim radhiyallahu anha.

Kisah ini adalah kisah antara Ummu Sulaim, sang bunda, dengan suaminya, yaitu Abu Thalhah. Ia adalah ayah tiri Anas bin Malik.

Anas radhiyallahu anhum ajma’in berkata bahwa Abu Thalhah punya anak kecil, artinya adalah adiknya Anas bin Malik, satu ibu. Anaknya Abu Thalhah suatu hari sakit. Anak kecilnya sakit, namun Abu Thalhah harus pergi, maka pergilah ia. Qodarullahu ma’syaafa’al, ternyata anak itu meninggal. Ketika anak itu meninggal, Abu Thalhah tidak tahu. Maka ketika Abu Thalhah pulang, ia tidak segera diberitahu oleh sang istri, Ummu Sulaim radhiyallahu anha. Dalam Thobaqot Ibnu Sa’ad, bahkan Ummu Sulaim berkata kepada orang-orang yang mengetahui berita meninggalnya anak kecil ini, kata Ummu Sulaim “La tukhbiru Aba Thalhah hatta akun ana ukhbiru.” “Jangan kabri Abu Thalhah, biar aku sendiri yang mengabari dia.”  Nampaknya Ummu Sulaim punya cara untuk menyampaikan kesedihan yang pasti juga menguras hatinya, karena ia ibunya. Tentu sangat menguras hati.

Tetapi, subhanallah, Ummu Sulaim ini wanita cerdas. Wanita yang kokoh jiwanya dan kuat tawakalnya. Ia ingin menyampaikan kesedihan pada suaminya di waktu yang tepat tidak mau mengganggu hari istimewanya, setelah berpisah dan bertemu di malam yang istimewa itu.

Maka malam itu Ummu Sulaim menyiapkan makan malamnya, mereka makan malam berdua ibarat pengantin baru. Malam yang sangat indah dan bahkan mereka berdua menyelesaikan malam itu dengan penuh keindahan, Abu Thalhah mencampuri istrinya, subhanallah. Esok paginya, semua dalam keadaan bahagia, nyaman. Maka Abu Thalhah yang sebenarnya sudah bertanya ketika baru datang, bagaimana keadaan putraku? Dan ketika itu Ummu Sulaim menjawab, “Dia lebih tenang dibandingkan sebelumnya.”

Pada pagi hari itu, Ummu Sulaim berkata pada Abu Thalhah, “Wahai Abu Thalhah, ada keluarga fulan meminjam sesuatu dari keluarga fulan, tetapi begitu diminta barangnya, ternyata tidak mau memberikannya.” Abu Thalhah menjawab, “Tidak boleh itu, karena pinjaman itu harus dikembalikan kepada yang punya.” Ternyata ini sebuah muqadimah. Lagi-lagi wanita cerdas bicara dengan suaminya menggunakan muqadimah yang indah. Kemudian Ummu Sulaim menyampaikan: “Ssesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan Allah telah mengambilnya.”

Subhanallah, kemudian Abu Thalhah mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, dia langsung pergi ke Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam dan menyampaikan duka ini berharap mendapatkan hiburan dari Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam. Dan Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam berkata pada Abu Thalhah, “Apakah semalam kalian menjadi pengantin baru?” Kata Abu Thalhah, “Ya, Rasulullah.” Maka Rasulullah Shallahu ’alaihi wa sallam berkata, “Allahumma barik lahuma (Ya Allah berkahi keduanya).” Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan, “La’alallah ha an yubarika lakuma fil lail lakuma (Semoga Allah menjadikan malam kalian sebagai malam yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala).”

Apa hasil dari doa itu?

Hasilnya adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Al-Minhaj dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, ternyata benar bahwa malam itu adalah malam di mana setelah itu Ummu Sulaim hamil. Dan lahirlah anak yang dinamai dengan Abdullah. Bahkan langsung ditahnik oleh Nabi shallahu ’alaihi wa sallam dan ternyata Abdullah ini memiliki sembilan anak-anak yang sholeh. Semuanya ulama, dan semuanya hafal Al-Qur’anul Karim. Subhanallah.

Inilah arti dari sebuah keberkahan untuk anak-anak kita. Maka lakukan semua hal dalam keluarga kita atas dasar Allah dan Rasul-Nya, agar diberkahi. Kalau diberkahi, berapa pun jumlah anak-anak kita dan cucu kita, maka seperti inilah keberkahannya. Akan menjadi orang sholeh, ahli Al-Qur’an, bahkan menjadi ulama.

Semoga Allah memberkahi keluarga kita semua.

Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Wednesday, January 11, 2017

Serial Berkah #7 - Pagi yang Berkah


Allah subhana wa ta’ala memberikan kepada kita satu hari satu malam 24 jam. Dan sama saja, mau hari Senin, hari Selasa, hari Rabu dan seterusnya, satu hari itu mesti 24 jam. Tetapi, kita merasakan hari-hari itu kita lalui dengan kualitas yang berbeda-beda. Bukankah terkadang kita pernah merasakan satu hari penuh dengan kebaikan dan ketaatan, penuh karya? Tapi terkadang ada satu hari kita lalui, yang bahkan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kosong. Kita tidak tahu harus merencanakan apa, kemudian berlalu sia-sia. Bahkan terkadang, ada satu hari yang kita lewati dengan dosa-dosa yang terselip di sana.

Bagaimana caranya supaya sebuah hari menjadi barokah?

Ternyata, ada ajaran yang menarik dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam kalau kita ingin hari-hari kita sepanjang 24 jam penuh keberkahan, bahkan hingga akhir harinya ditutup dengan keberkahan. Kunci pertamanya adalah mulailah pagi hari itu dengan keberkahan.

Dari Shakhor Al Ghamidi radhiallahu anhu, Rasulullahi shallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Allahumma barik li ummati fi bukuriha.” “Ya Allah berkahilah umatku pada pagi harinya.”

Ternyata, kita ini sudah didoakan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam agar pagi kita ini barokah. Karenanya, ambil pagi hari itu dan jangan biarkan dia berlalu tanpa aktivitas yang mulia.

Mari kita lihat selanjutnya.. “wakaana idza ba’atsa syariyatan au jaisyan ba’atsa hum awallan nahar,” Nabi itu kalau mengirimkan pasukannya, Nabi mengirimkan di awal siang. Artinya di pagi hari. Untuk apa? Supaya barokah pasukannya itu. Kalau barokah, Masya Allah hasilnya. Pasukan itu akan ditolong Allah subhana wa ta’ala.

Bahkan Shakhor Al-Ghamidi sendiri, wakaana shokho rojulan taajiron, beliau itu ialah seorang pedagang. Wakaana idza ba’atsa tijarotan ba’atsa hum awwalan nahar, beliau kalau mulai mengirimkan dagangannya, beliau juga mengirimkannya di awal siang, yaitu di pagi hari. Mulai dari pagi beliau sudah membuka aktivitas perdagangannya. Maka apa hasilnya? Barokah!

Ternyata, salah satu makna barokah adalah fa at’tsara wa katsuro maluhu. Maka Shakhor radiallahu anhu menjadi kaya dan banyak hartanya. Bukankah ini yang diinginkan oleh mereka-mereka yang beraktivitas, berusaha agar hartanya melimpah dan banyak?

Ambil pagi hari, aktivitas pagi hari, dan memulai pagi hari karena di sana ada do’a Rasul untuk umatnya. Untuk kita semua agar kita diberkahi di pagi itu. Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dinyatakan hasan oleh At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Albani.

Maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kepada kita do’a di pagi dan sore hari. Di antara isi dzikir pagi dan sore hari adalah apa yang diriwayatkan Abu Daud dan dihasankan oleh Albani dan Al-Arnauth. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ketika kalian di pagi hari dan sore hari maka bacalah ini:

“Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi rabbil’aalamiin, allahumma innii as’aluka khoiro hadzaal yaumi, fathahu, wa nashrohu wa nuurohu, wa barokatahu, wa hudaahu, wa a’udzubika min syarri maa fiihi wa syarrimaa ba’dahu.”

 “Ya Allah aku di pagi hari ini dan pagi hari ini kerajaan milik Allah Rabbul ’Aalamiin. Ya Allah aku meminta kepadamu kebaikan hari ini, yaitu kemenangan-Nya, kebaikan-Nya, pertolongan-Nya, cahaya-Nya, barokah-Nya, dan petunjuk-Nya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan setelahnya.”

Ternyata dalam satu hari itu ada keberkahan hari, maka tidak ada kamus kesiangan bagi keluarga muslim. Tidak ada kamus tidur setelah Shubuh. Beraktivitaslah, beraktivitaslah, berbuatlah kebaikan, berbuatlah kebaikan. Maka kita akan mendapatkan barokah-Nya, dan semoga satu hari itu adalah hari barokah, dan kita tutup hari itu juga dengan barokah.

Maka ambil keberkahannya, semoga Allah memberkahi kita semuanya.

Wallahu ta’ala a’lam bishowab.

Thursday, January 5, 2017

Serial Berkah #5 - Makanlah Bersama - sama


Wahsyi radhiyallahu anhu, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, meriwayatkan sebagaimana yang disampaikan dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Ibnu Majah, dan hadits ini dihasankan oleh Al-‘Iroqi dan Al-Albani, rahimahullahu jami’an.

Kata Wahsyi, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. ”Ya Rasulallah, Inna na’qulu wala nasyba?” (Ya Rasulullah, kami makan, tapi mengapa kami tidak kenyang-kenyang?)

Subhanallah, para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, untuk urusan kenyang pun mengadu kepada Nabi. Dan begitulah juga seharusnya hidup kita, bertanyalah ke Rasul tentang hidup ini dalam segala hal. Karena ternyata para sahabat, urusan makan yang tak kunjung kenyang pun bertanya pada Nabi. Kami makan banyak ya Rasulullah, tapi kenapa kami tidak kunjung kenyang?

Maka lihat jawaban Nabi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, karena jawabannya di luar dugaan kita. Ternyata urusan kenyang bukan sekadar anda makan banyak, atau bukan sekadar sebagus apa nutrisi kita, tapi ada konsep lain dalam Islam yang sumbernya langsung datang dari wahyu.

Rasulullah mengatakan, “Fa la’allakum ta’kuluna mutafarriqin,” (Mungkin kalian makannya terpisah-pisah atau sendiri-sendiri.) “Qolu na’am,” (mereka menjawab, Iya). Maka Nabi pun memberikan pesan (wejangan). Kata Nabi, “Fajtami’u ‘ala tho’amikum wad kurusmallahi ‘alaihi yu baroklakum fiih.” (Berkumpulah kalian kalau makan. Makanlah bersama-sama, sebutlah nama Allah, dan kalian akan diberkahi di makanan itu.)

Ternyata, makan bersama itu adalah konsep nubuwwah, konsep dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam agar makanan kita diberkahi untuk kita. Kalau diberkahi itu ternyata maknanya adalah membuat kalian cepat kenyang, bukankah pertanyaan sahabat adalah makan yang tak kunjung kenyang?

Maka dari itulah, Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, beliau menukil riwayat Ibnu Umar, mauquf dari Ath-Thabrani, diberikan alasannya. “Kullu jami’a wala tafarroku fa inna tho’amal wakhid yasfilisnain,” (Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah-pisah karena sesungguhnya makanan satu orang cukup untuk berdua.)

Itu artinya, makanan kita bahkan bisa mencukupi sampai dua kali lipatnya. Subhanallah, inilah solusi. Makan kumpul bersama ialah konsep yang sederhana, tapi ada tema keberkahan di sana.

Adapun ayat dalam surat An-Nur  ayat 61, laisa ’alaikum juna khun’alaikum antakulu jami’an au asytata, tidak masalah bagi kalian untuk kalian makan bersama-sama atau makan terpisah-pisah. Ayat ini sudah dijelaskan oleh Ali Al-Mula Al-Qori dalam Riqotul Mafatih, ayat ini adalah rukhsoh, artinya sebuah keringanan akan bolehnya makan sendiri-sendiri, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman bagi orang yang makan sendiri ketika keadaannya tidak memungkinkan untuk makan bersama-sama. Akan tetapi, kalau kita ingin makanan kita diberkahi, kalau kita ingin segera kenyang ketika makan, maka berkumpullah bersama-sama. Makanlah bersama-sama. Maka dari itu, mari ambil berkahnya. Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua. 

Wallahu’alam bi showab.

Serial Berkah #4 - Kekayaan Penuh Keingkaran


Masih banyak sekali bertebaran dalam al-Qur’anul Karim, kisah sejarah umat terdahulu yang menjadi pelajaran mahal. Kisah yang menjadi panduan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam membimbing para sahabatnya, mengkader mereka, berdakwah di masyarakatnya, menghilangkan kejahiliyaan yang ada pada mereka, dan tentu menjadi panduan untuk kita semuanya.

Surat yang disunnahkan untuk dibaca setidaknya seminggu sekali di malam/hari Jumat ialah surat al-Kahfi. Surat ini memuat beberapa kisah, dan di antaranya adalah kisah tentang dua orang yang berteman, tetapi mereka diberikan Allah subhana wa ta’ala nasib ekonomi yang berbeda. Allah subhana wa ta’ala di dalam ayat yang ke-32 dari surat al-Kahfi dan seterusnya berkisah tentang dua orang ini.

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang (tanaman-tanaman yang lain).” (al-Kahfi: 32)

Sungguh sangat luar biasa jika kita membayangkan dua kebun anggur yang dikelilingi oleh kurma, kemudian di antara kedua kebun itu ada tanaman-tanaman lainnya. Tentu ini adalah kebun yang luar biasa. Makanya al-Qur’an mengatakan kedua kebunnya menghasilkan buah. Maka menjadi  kaya rayalah orang ini, berbeda dengan temannya yang miskin. Akan tetapi, kekayaan yang melimpah ruah yang seharusnya menghasilkan syukur itu justru menghasilkan kezaliman.

Di ayat 35 Allah menyampaikan itu, dia masuk kebunnya dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri. Lihat! Hati-hatilah dengan kekayaan. Seharusnya kekayaan di dunia ini—bagi siapa pun yang Allah berikan kenikmatan kaya di dunia—maka lanjutkan kekayaan itu sampai anda menjadi orang kaya di akhirat sana, di surga Allah subhana wa ta’ala. Jangan hanya kaya di dunia yang sementara dan kemudian sengsara di akhirat nanti. Ini termasuk orang yang merugi, ternyata harta menghasilkan kezaliman bagi dirinya sendiri.

Setidaknya ada dua kesalahan besar yang dia lakukan karena kaya lupa diri. Dia pikir dunia ini akan mengabadikan dirinya hidup di dunia. Dia pikir tidak mati. Dia pikir bisa membeli segalanya, sampai ia (pemilik kebun) mengatakan saya menduga bahwa kebun ini akan akan abadi tidak hilang, terus menghasilkan. Bahkan saya menduga kiamat itu tidak ada.  Pemilik kebun ini berani pada Allah subhana wa ta’ala, padahal ia hanya memiliki sekelumit debu dunia ini. Hati-hati, orang lupa diri hanya karena kekayaan yang sangat terbatas. Bahkan dia salah dalam memaknai harta.

ia menduga dengan dia kaya adalah bukti Allah mencintainya. Dan nanti kalau dia kembali pada Allah dia pasti mulia. Ini salah tolok ukur. Kemuliaan di sisi Allah bukan karena kekayaan, tetapi siapa yang paling bertaqwa. Maka dinasihatilah ia oleh temannya yang baik itu.apakah kamu kafir? Ingkar? Kufur nikmat terhadap yang telah menciptakan kamu dari tanah, dan seterusnya. Dinasihati tetapi tetap tidak mau, akhirnya ujung dari semua itu adalah,

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak berbuat kemusyrikan kepada Allah.“ (al-Kahfi: 42)

Akhirnya kebun itu dihancurkan Allah subhana wa ta’ala, dan kemudian dia menyesal dan berkata, andai saya tidak berbuat kemusyrikan kepada Allah.

Jadi bukanlah sekadar banyak, akan tetapi harus berkah. Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang lalai, orang yang sombong, orang yang jauh dari agama Allah, hanya karena harta kita. Karena mudah sekali bagi Allah untuk mencabutnya, mengambil kenikmatan yang kita nikmati hari ini.

Maka pertahankan keberkahan itu. Ambil berkahnya. Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua.

Wallahu’alam bisshowab.

Serial Berkah #3 - Gagal Panen


Al-Qur’anul Karim sepertiganya adalah kisah, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama Al-Qur’an. Itu artinya, betapa pentingnya posisi sejarah untuk membangun generasi peradaban.

Kita ambil satu kisah, yang kisah ini merupakan salah satu kisah yang awal diturunkan oleh Allah kepada Nabinya dalam mengawali langkah di Makkah. Kisah ini diturunkan karena Nabi mulai berhadapan dengan orang-orang musyrik Makkah yang menentang dakwah beliau. Allah berikan kisah ini dalam surat Al-Qalam. Allah berfirman dalam Qs.Al-Qalam 17 : “Sesungguhnya kami telah menguji mereka, yaitu orang-orang musyrik Makkah, sebagaimana kami menguji para pemilik kebun ketika mereka dulu bersumpah bahwa mereka benar-benar akan panen di pagi hari.”

Said bin Zubair rahimahullah, sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, beliau berkata bahwa para pemilik kebun ini adalah mereka yang tinggal di sebuah tempat yang bernama Dharawan, di mana tempat ini lokasinya 6 mil dari Kota Shan’a di Yaman. Kisahnya adalah bahwa para pemilik kebun ini dulunya punya ayah. Ayahnya adalah orang yang mulia, baik, dermawan sekali. Setiap dia panen, dia panggil orang-orang miskin ikut panen menikmati kebunnya. Orang miskin datang ada yang membawa tempat, keranjang, atau menggunakan tangannya untuk membawa hasil panen yang sama-sama dinikmati itu.

Ayah yang baik ini sudah mengukur bahwa dia memanfaatkan apa yang bisa dia manfaatkan dari kebunnya, disimpan sebagiannya untuk makan dia dan keluarganya selama setahun, dan sisanya dishadaqahkan. Ketika dia meninggal, anak-anaknyalah yang mewarisi kebun itu. Tapi mereka berkata, “Ayah kita ini tidak cerdas. Andai kita tidak berikan pada orang-orang miskin, kita akan lebih kaya dari sekarang.” Ini hitungan matematis, bukankah begitu? Maka berhati-hatilah punya anak yang hanya diajari hitungan matematika dunia, tapi tidak pernah diajari hitungan Allah Yang Maha Memberi Keberkahan, Yang Memiliki kekayaan di langit dan di bumi serta seluruh isinya. Seperti anak-anak pemilik kebun ini, mereka pandai berhitung. Jelas mereka tahu hitungannya, andai tidak diberi kepada orang miskin maka mereka lebih kaya. Tapi ketahuilah, inilah yang membuat mereka kehilangan keberkahan. Bahkan tidak hanya kehilangan keberkahan, mereka kehilangan kebun mereka dan tidak bisa panen!

Dalam Qs. Al-Qalam 19 mengatakan bahwa kebun mereka dihabisi oleh Allah saat mereka tidur, sehingga ketika esok paginya mereka harus panen, kebun mereka telah hangus dan gosong.
Akhirnya mereka menyesal di ujungnya. Mereka tidak bisa panen. Maka hilanglah semuanya, hilanglah rezeki mereka sepanjang tahun, hilanglah kebun mereka, bahkan hilanglah kesempatan untuk bershadaqah.

Dan Allah menutup (Dalam Qs. Al-Qalam 33. Itulah azab di dunia, dan azab di akhirat lebih besar lagi kalau mereka tahu. Oleh karenanya, berilah haknya orang tidak mampu pada harta kita. Jangan dzalimi mereka. Apa yang kita simpan dari harta, atau hak orang lain yang ada dii harta kita itu tidak ada baiknya. Yang ada justru menghilangkan keberkahan di harta kita. Maka ambil berkahnya, berikan hak orang lain, berikan hak-hak orang miskin di harta kita.

Wallahu a’lam bisshawab.

Wednesday, January 4, 2017

Serial Berkah #2 - Yang Banyak Tapi Tidak Membahayakan


Sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan hari-hari awal Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu ketika di Madinah. Ketika itu Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu datang dalam keadaaan miskin, tidak membawa harta. Saat itu dia hendak dibantu oleh seorang sahabat yang telah dipersaudarakan dengan Rasul, yaitu Saad bin Robiah al-Anshori radhiallahu ‘anhu, salah satu sahabat yang kaya di Madinah.

Tetapi Abdurrahman menolak secara halus dengan mengatakan, “Barakallahu laka fi ahlik wal malik.”  “Semoga Allah memberkahi  hartamu dan keluargamu. Tunjukan saja saya di mana pasar.” Maka ditunjukkanlah pasar Bani Qainuqo. Abdurrahman masuk ke pasar dan pada hari itu dia langsung mendapatkan keuntungan, berupa minyak samin dan makanan.

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat Abdurrahman bin Auf terlihat klimis, rapi, dan ada bekas minyak wangi. Maka Nabi bertanya, “Apa ini, Ya Abdurrahman?” Abdurrahman menjawab, “Ya Rasulullah saya menikah dengan seorang wanita dari Anshor.”

Nabi bertanya, “Apa maharnya?” Abdurrahman bin Auf berkata, maharnya adalah nawa dan mizzahab. Nawa dan mizzahab menurut Anas bin Malik beratnya adalah seperempat dinar. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ath-Thabrani.

Nabi kemudian berkata, “Buatlah walimahnya, walau hanya dengan seekor kambing.” Ini untuk mensyukuri. Masa ini terjadi ketika Abdurrahman masih miskin. Hartanya masih sedikit, maharnya hanya nawa dan mizzhab, dan walimahnya pun dibuat hanya dengan seekor kambing.

Akan tetapi, Allah memberikan kekayaaan yang melimpah ruah pada Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu di kemudian hari. Ini bisa kita lihat dari kekayaan Abdurrahman yang ditinggalkan pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Salah satu istrinya mendapatkan 100 ribu dinar. Subhanallah, satu dinar sama dengan 4.25 gram emas. Sedangkan istrinya berjumlah 4 orang, sehingga ada 400 ribu dinar yang diberikan pada istrinya. Dan itu baru seperdelapan dari kekayaan Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu.

Serial Berkah #1 - Biar Sedikit Tapi Cukup


Abdurrahman, putra Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, pernah menyampaikan sebuah kisah tentang para sahabat yang tinggal di Shuffah. Shuffah ialah sebuah tempat yang dahulu di zaman Rasul ada di belakang Masjid Nabawi. Digunakan sebagai tempat tinggal yang tidak layak untuk ditempati karena tidak ada dindingnya. Hanya beratap saja, kalau panas sangat panas cuacanya dan kalau dingin begitu menggigil.

Mereka menempati tempat itu. Dan tempat itu adalah tempat bagi para sahabat yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Para sahabat yang datang ke Madinah tidak memiliki harta, tidak punya sanak saudara, dan tidak punya rumah di Kota Madinah. Mereka adalah orang-orang miskin, kata Abdurrahman.

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagai sebuah solusi bagi keadaan kemiskinan ini.

Apa sabda Nabi itu? Nabi mengatakan, siapa yang memiliki makanan untuk dua orang maka bawalah orang yang ketiga, dan siapa yang memiliki makanan untuk empat orang maka bawalah orang yang kelima bahkan orang yang keenam. Ini sebuah solusi, yaitu kebersamaan membawa saudaranya untuk makan bersama. Bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjamin, walau makanan itu hanya untuk dua orang dia akan cukup bertiga, maka bawalah orang yang ketiga. Walau makanan itu hanya cukup untuk empat orang, maka bawalah orang yang kelima dan keenam karena dia juga akan mencukupinya.

Malam itu, kata Abdurrahman, Abu Bakar membawa pulang tiga orang, dan Abdurrahman diamanahi oleh sang ayah untuk menjamu tamu yang berjumlah tiga orang itu. Abdurrahman berikut istrinya Abu Bakar yang ada di rumah diminta untuk menjamunya.