Assalamu'alaikum ^_^

Yuk kita perbanyak membaca buku dan mendengarkan kajian, Let's Fastabiqul khoirot !

Showing posts with label Artikel Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Artikel Hikmah. Show all posts

Tuesday, January 2, 2018

Hikmah #25 - Walimatul 'Ursy


Melihat perkembangan zaman saat ini, begitu banyak perubahan di segala aspek kehidupan. Mulai dari akhlak, tindakan, hingga peribadahan. Perubahan itu jika kita cermati tidak lain salah satunya disebabkan oleh semakin berkembangnya media sebagai salah satu sarana komunikasi antar sesama. Sangat memungkinkan sekali adanya kultur atau budaya berpindah antar daerah, dan antar negara. Salah satu contoh bentuk perubahan tersebut adalah dalam pengamalan Walimahan. 

Dulu walimah atau pesta pernikahan begitu sederhana, namun sekarang sudah banyak yang berubah, tidak sedikit yang menjadi ajang pamer, pesta bermewah mewahan. Dulu cukup sekedar makan makan, namun sekarang sudah banyak ditambah dengan ritual ritual, pertunjukan musik, wayang, dll, foto foto mulai dari pre wedding, saat pernikahan hingga pasca akad. Sebagai umat muslim mungkin kita tidak perlu silau dengan pelaksanaan pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang non muslim, namun yang masyaallah saat ini juga dapat kita jumpai adalah pada pesta pernikahan seorang muslim juga. Masyaallah...

Maka pentingnya kita ngaji, mempelajari dan memahami risalah Rosulullah sallahu 'alaihi wa sallam. Nah berikut ini saya lampirkan brosur rangkuman penjelasan Quran dan Sunnah terkait Walimatul 'Ursy.
 Download Brosur : klik disini

Wednesday, December 13, 2017

Hikmah #24 - Menjemput Rizqi Barokah


Bismillah...
Jangan lupa bersyukur

Sesungguhnya apabila rizki itu diukur dari kerja keras,
maka kuli bangunan lah yg akan cepat kaya.

Jika rizki itu ditentukan dr waktu kerja,
maka warung kopi 24 jam lah yg akan lbh mendapatkanya, bahkan mungkin mampu mengalahkah KFC dan Mc. DONALD

Jika rizki itu milik orang pintar,
maka dosen yg bergelar panjang yg akan lbh kaya.

Jika rizki itu karena jabatan,
maka presiden dan rajalah orang yg akan menduduki 100 orang terkaya di dunia.

Rizki itu karena kasih sayang Allah, yang harus kita usahakan itu mengejar rizki, jangan mengejar jumlahnya, tetapi berkahnya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra pernah berpesan : "Meskipun lari rizqi kita tidak tetap akan mengikuti kita (mengejar kita). Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban No. 1084)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.
Abdurrahman bin Auf selalu gagal jadi orang miskin. Masih ingatkan kita dengan kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk. Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama. Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk syurga lebih awal. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus. Semuanya bersyukur..Alhamdulillah..kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira. Abdurrahman bin Auf r.a pun juga gembira. Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf r.a gembira juga sebab...berharap jatuh miskin! Masya Allah....

Coba kalau kita? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah. Abdurrahman bin Auf r.a merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin. Namun.. Masya Allah Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik.. Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK ! Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa. Allahu Akbar.... Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal.

Benarlah firman Allah: "Wahai manusia, di langit ada rezki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " (Qs. Adz Dzariat, 22 ) Jadi.. yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk? Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang Memberi rezki

Semoga kisah ini dapat menyuntik kembali semangat dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, untuk lebih mengutamakan urusan akhirat, mengutamakan Allah dan RosulNya dibanding urusan dunia yang sementara ini

Kisah diatas sesuai dengan hadist Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Wallahu'alam bisshowab.
Pakem, 14 Desember 2017 - AM

Wednesday, November 22, 2017

Hikmah #23 - Wanita

source : semestarasa.tumblr.com

Ada beberapa catatan hikmah dari Ustadz Salim A. Fillah 
tentang kemuliaan seorang wanita sholihah

Pertama

Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

Kedua

Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.

Ketiga

Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.

Keempat

Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.

Kelima

Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.

Keenam

Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.

Ketujuh

Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.

Kedelapan

Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki
    kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan
    menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi
    itu lebih baik daripada digantung.

Kesembilan

Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu? Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.

Kesepuluh

Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
“Tanyakan pada hatimu: Mana di antara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga.”


Pakem, 23 November 2017 - AM

Monday, June 5, 2017

Hikmah #22 - Kesyukuran dalam Perjuangan


Apa kabarmu ?
Saya ? iya... saya...?

Alhamdulillah bulan Ramadhan yang berkah.
Begitu banyak aktivitas yang menuntut untuk tetap istiqomah dalam dakwah.
Mulai dari urusan rumah, sampai urusan maisah.
Belum lagi mengurus kegiatan kemajlisan yang terus bersambung,
kegiatan demi kegiatan sudah terencana disetiap bulannya,
bahkan setiap harinyapun selalu ada kegiatan di majlis,
Sudah seperti kegiatan spesial Ramadhan di Majlis ^_^

Lelah ? pastinya...
Lemah ? tidak !

Sering kali saya bimbang ketika harus memilih mana urusan yang harus didahulukan,
kalau di rinci satu persatu, cukup banyak ternyata kegiatan yang mau dikerjakan,
mulai dari yang simple melengkapi isi rumah,
sampai hal amanah merintis berdirinya sekolah.

Disaat rasa bimbang itu muncul,
untuk saat ini hanya bapak dan ibuk sayalah jawabannya.
Selalu saya curhat bersama keduanya selain saya juga mendekat kepadaNya.
Berusaha melangkah dengan senantiasa memperbarui dan meluruskan niat,
melakukan segalanya hanya tulus mengharap ridhoNya.
Dan komunikasi saya dengan bapak ibuk saya adalah
jalan pintas mendapat ridho Allah, karena ridhollahu fii ridho walidyn.

Rasa syukur senantiasa saya panjatkan kepada Allah subhanahu wata'ala
atas segala kenikmatan dan kesempatan dalam setiap langkah perjuangan
tiap jam selalu terlintas pikiran bagaimana untuk terus berkarya
berusaha menjadi mata air yang hadirnya selalu membawa manfaat bagi sesama.

di rumah sedang mengkonsep tempat belajar anak anak Desa : TamanQu
di tamanQu sedang menyiapkan SDM pengajar untuk program privat
di asrama sedang mengkonsep tempat belanja sembako dan sayur warga ngaji : KioSS Warga
di majlis sedang mempersiapkan kegiatan Nafar Ramadhan Periode II : Go Nafar
di kepemudaan MTA Jogja :
- pengadaan seragam jogjaje
- persiapan agutustusan jogjaJE merdeka
- persiapan akhir tahun JogjaJE Bazar & Expo
di TPA MTA Jogja :
- follow up Festival Anak Sholeh MTA
- persiapan pembagian sertifikat, CD dan Booklet
- persiapan Al Khusna MTA
- persiapan Up grading Ustadz Ustadzah TPA
- mengkonsep Jambore Anak Sholeh MTA DIY untuk awal tahun 2018
di eat cocoa merapi sedang evaluasi gubuk coklat dan pengajuan pengembangan ke dinas
di kantor takii sedang persiapan tanam cabai dan tomat

Bagi saya inilah bukti bahwa Allah masih sayang kepada saya,
bukan bermaksud riya' atau pamer,
hanya saya ingin menunjukkan maju tidaknya diri kita, tergantung pada kita sendiri,
kuncinya adalah "kita" mau atau tidak kita bergerak.
Jika sudah memutuskan bergerak, maka sejauh mana tekad kita untuk bergerak,
seperti kata Pak Dahlan Iskan, berapa karat tekad kita ?
apakah 10 karat atau 20 karat atau murni lillahi ta'ala 24 karat.

Semakin tulus keikhlasan kita,
ketika kita memutuskan bergerak ikhlas karena Allah,
insyaalah Allah akan membukakan jalan kebaikan, satu per satu,
sesuai dengan kemampuan kita masing masing.

Dan dari situlah kita akan mengerti bahwa Allah Maha Bijaksana.
Allah memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan,
tapi sesungguhnya Allah senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan.
Ketika kita memohon kepada Allah keselamatan dunia dan akhirat,
maka Allah berikan kepada kita kesempatan kesempatan untuk beramal.
Semakin kita bersungguh sungguh menyambut kebaikan itu,
maka semakin kecil waktu kita untuk melakukan hal hal yang sia sia,
Maka beruntunglah kita mendapat kesempatan belajar, dan beramal dengan nyaman dan aman,
tiada lain selain yang pantas kita panjatkan melainkan rasa syukur kepada Allah.
bersyukur dengan pembuktian perjuangan menolong agama Allah.
Menjadi kader kader dakwah penerus risalah islam.
Siapapun kita, dimanapun kita dan apapun pekerjaan kita,
yang terpenting tetap sama, Allah tujuan kita.

Wa insyaallah dengan padatnya kegiatan tersebut,
bukan akan membuat kita kuper (kurang perhatian) atau capek saja
justru dengan banyaknya kegiatan itu akan menjadikan kita lebih khusyu', lebih bijak,
lebih bisa mengatur diri dalam berkomunikasi, menjaga diri, mengatur waktu,
sampai pada puncaknya kita menjadi hamba Allah yang beriman dengan iman yang benar.
seperti yang Allah firmankan dalam Qs Al Mu'minun 1-5, diantaranya
Mukmin itu adalah yang khusyu' dalam sholatnya
Mukmin itu adalah yang meninggalkan perkara yang sia sia
Mukmin itu adalah yang menunaikan zakat
Mukmin itu adalah yang memelihara kemaluannya

Semoga kita semua oleh Allah diberikan kesempatan untuk terus istiqomah dalam berkarya,
membina diri membangun generasi yang Qur'ani dan mandiri
tentunya dengan jalan dan cara kita masing masing.

Wallahu 'alam bisshowab

Yogyakarta, 05/06/2017 - AM

Monday, May 29, 2017

Hikmah #21 - Mendidik Keluarga dengan Kitab Tafsir Al-Qur’an


Segala pujian hanya layak untuk Allah Subhanahu wata'alaa, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya

Segala puji bagi Allah 
Subhanahu wata'alaa, Allah Subhanahu wata'alaa telah mengingatkan kepada setiap MUKMININ untuk mengasihi dan menyayangi keluarganya, dan membekali anak-anak turun mereka dengan sesuatu yang besar, yaitu untuk selalu melestarikan nikmat Islam, nikmat Iman dan nikmat Taqwa, nikmat turunnya rahmat Allah Subhanahu wata'alaa kepada manusia di Bumi, sebagaimana firman-Nya. 

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q S 4 An-Nisaa ayat 9)

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS S 66 At-Tahriim ayat 6)


Seorang mukmin diperintah untuk mengusahakan agar anak turun mereka kuat di dalam menempuh jalan hidup yang membawa mereka selamat, bahagia selalu dalam rahmat dan barokah Allah Subhanahu wata'alaa di dunia, di alam kubur dan di akherat. Kekuatan mereka menempuh jalan islam, jalan iman dan amal sholih dapat lestari dari generasi ke generasi. Demikian pula wasiat Nabi Ya'qub terhadap anak anak mereka.

Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS 2 Al-Baqarah ayat 133)

Lestarinya keselamatan, rahmat dan barokah Allah Subhanahu wata'alaa dalam kehidupan di dunia dan diakhirat adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wata'alaa.


1. Pentingnya Mengajarkan Tafsir Al-Qur’an di dalam setiap Keluarga.

Seseorang masuk Islam menjadi seorang muslim dilakukan dengan ber Syahadat. Dan kemudian akan terus meningkatkan diri dengan belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah, untuk meningkatkan imannya, sehingga menjadilah dia seorang muslim yang beriman. Seorang mukmin adalah orang yang dihatinya ada iman yang terpelihara, perintah Allah 
Subhanahu wata'alaa dijalankan karena Allah Subhanahu wata'alaa dan itu akan meningkatkan taqwanya, dan larangan Allah Subhanahu wata'alaa dijauhi karena Allah Subhanahu wata'alaa, dan itu akan meningkatkan taqwanya.

Allah 
Subhanahu wata'alaa telah menurunkan Al-Qur’an dan menjadikan sesuatu yang berulang-ulang ayatnya agar manusia dapat mengambil peringatan itu dari waktu ke waktu, sebuah kejadian di ulang-ulang dalam beberapa surat , agar manusia selalu dapat waspada dengan peringatan penting tersebut.

Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS 17 Al-Israa 89)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS 39 Az-Zumar ayat 23)

Ulama Hijaz dalam menyajikan Al-Qur’an telah membagi satu Kitab Al-Qur’an menjadi 30 JUZ, dan masing-masing JUZ tertulis dalam 20 halaman, dan total halaman yang ada di dalam Al-Qur’an adalah 605 halaman.

Setiap kepala keluarga muslim setidaknya telah pernah membaca dan berusaha memahami Sebuah kitab Tafsir yang pada hari ini telah banyak tersebar di tengah-tengah kehidupan zaman modern ini.

Dan zaman sekarang pun, seseorang yang tidak bisa berbahasa Arab, maka telah tersedia terjemah kitab-kitab Tafsir baik yang panjang uraiannya atau yang pendek uraiannya. Termasuk sudah masuk ke dalam Aplikasi Android.

Terjemah Kitab Tafsir Ibnu Katsir dengan penjelasan yang ringkas pun sudah tersedia di berbagai toko buku. Termasuk Kitab Tafsir terkenal lainnya, seperti Kitab Tafsir Al-Maroghi, Kitab Tafsir Qurthubi, Kitab Tafsir Ath-Thobari, Kitab Tafsir Fi Dzilalil Qur’an Sayid Quthb, Kitab Tafsir Al-Azhar Prof Dr Hamka, Kitab Tafsir Departemen Agama RI, Dll.

Bagaimana seorang kepala keluarga, seorang mukmin bisa membawa seluruh keluarganya untuk bisa mewarnai akal dan fikiran serta hati dan perasaan dengan bimbingan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al-Qur’an terbagi dalam dua jenis ayat, yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutashabihat. Dan ayat-ayat muhkamat (ayat yang terang benderang pengertian dan pemahamannya) adalah kebanyakan dari ayat-ayat Al-Qur’an, sedang ayat yang mutashabihat (ayat yang samar pengertian dan pemahamannya perlu takwil)  oleh orang-orang berilmu, bahkan Allah memberitahu bahwa orang yang mendalam ilmunya akan menyerahkan kepada Allah Subhanahu wata'alaa dalam memahami ayat ayat mutasyabihat.

2. Metode Praktis Terstruktur Menyampaikan Pelajaran Tafsir
    Kepada Keluarga.

Dalam keluarga Muslimin, Mukminin, Muttaqin tentu sangat menghargai Al-Qur’an dan As-Sunnah dan telah merasakan kenikmatan dalam merasakan kelezatan  mengilmui dan mengamalkan Al-Qur’an, dan pasti ingin agar ilmu, kefahaman dan pengamalan itu akan dinikmati pula oleh anak-anak turun mereka.

Seorang Bapak atau seorang Ibu yang bersemangat dan telah terpelajar, harus menyempatkan diri untuk mau membaca, mendalami dan memahami isi dari salah satu kitab-kitab tafsir tersebut. Sehingga kesulitan-kesulitan dalam memahami kitab tafsir tersebut dapat dirasakan, dan kemudian bisa mengungkapkannya  kembali kepada keluarga mereka, anak turun mereka dan seluruh anggota keluarga mereka, dalam bahasa yang benar, shahih dan mudah difahami oleh anggota keluarga mereka.

Betapa indahya pemahaman yang telah dimiliki, diungkapkan dalam bahasa yang mudah difahami oleh seluruh anggota keluarga, sehingga seluruh anggota keluarga beserta pembantu-pembantu rumah tangga mereka dapat merasakan barokah ilmu yang dimiliki oleh Ayah atau Ibu sebagai kepala keluarga yang merasa berkewajiban menyelamatkan keluarga mereka.

Bila di dalam keluarga di setiap pagi atau sore hari mengadakan ta’lim tentang tafsir ringkas Al-Qur’an sebanyak satu halaman, maka apabila rutin dijalankan setiap hari, maka akan dapat menyelesaikan satu Al-Qur’an dalam waktu 605 hari, atau setiap dua tahun (1 tahun =360 hari), akan dapat mengkhatamkan kajian tafsir ringkas di tengah keluarga mereka.

Penyampaian bisa dilakukan dengan cara membaca ayat-ayat tersebut secara bergantian, membaca terjemah secara bergantian, kemudian Ayah atau Ibu yang faham dengan penjelasan tafsir, akan memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah difahami oleh seluruh anggota keluarga mereka.

Segala puji bagi Allah, bila hal ini bisa dilakukan oleh setiap keluarga Muslimin, Mukminin dan Muttaqin, maka sungguh warisan ilmu, pemahaman, spirit dan pengamalan Al-Qur’an dan As-Sunnah akan dapat terus berjalan dari zaman ke zaman.

Kesimpulan

Segala puji bagi Allah 
Subhanahu wata'alaa, orang sering menyadari, bahwa lestarinya ilmu dan pengamalan sebuah ilmu adalah dilakukan dengan sarana dan suasana belajar mengajar. Semoga semua kita orang-orang bijak dan terpelajar dapat melakukan hal-hal yang dapat melestarikan estafet yang menjadikan RAHMAT Allah tetap diturunkan ke MUKA BUMI. Allah berfirman

Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Q S 6 Al-An’aam ayat 155)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Q S 10 Yunus ayat 57-58)

Marilah kita resapi ilmu dan pemahaman yang benar tentang Al-Qur’an dan kemudian kita rasakan rahmat Allah Subhanahu wata'alaa yang Allah curahkan kepada orang-orang yang selalu ta’at kepada Allah 
Subhanahu wata'alaa.  Dan kemudian Rahmat itu dan juga dirasakan oleh seluruh anggota keluarga kita semua secara turun temurun hingga akhir zaman. 

Wallahu A’lam.


Download : Tafsir Ibnu Katsir 


Repost from https://mta.or.id (Ustadz Bambang/Rahmatullah)
Yogyakarta, 30 Mei 2017

Wednesday, April 26, 2017

Hikmah #20 - Menjadi Yang Terbaik Diantara yang Baik


Allah subhanallahu wata'ala berfirman dalam Qs. Al Ahzab ayat 33 : Sungguh, laki laki dan perempuan muslim, laki laki dan perempuan yang mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam taatnya, laki laki dan perempuan yang benar, laki laki dan perempuan yang sabar, laki laki dan perempuan yang khusyuk, laki laki dan perempuan yang bersedekah, laki laki dan perempuan yang berpuasa, laki laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan yang pahala yang besar.

Dalam islam kita diajarkan untuk senantiasa berjuang, berjihad dijalan Allah subhanallahu wata'ala dengan jihad yang penuh dengan kesungguhan. Bersungguh sungguh menjadi seorang muslim yang kaffah, yang senantiasa berusaha menjadi baik diantara yang baik.

Seorang muslim yang kaffah ia akan menjalankan segala perintah Allah subhanallahu wata'ala dan menjauhi larangannya serta mengamalkan sunnah Nabi Muhammad Sallahu 'alaihi wasallam. Maka Mereka yang memiliki semangat kaffah, semangat fastabiqul khoirot, tidak akan puas dengan amalan yang baru ia lakukan, ia akan terus meningkat, berusaha meningkat setingkat.

Seperti pada ayat yang telah Allah firmankan diatas, bahwa setiap karakter atau kepribadian seorang laki dan perempuan muslim yang Allah subhanallahu wata'ala sebutkan tersebut bukanlah hal yang berdiri sendiri sendiri. Satu dengan yang lainnya adalah sebuah rangkaian, tahapan untuk puncaknya adalah untuk mendapatkan ampunan dan pahala yang besar yaitu surga.

Tingkatan yang pertama adalah muslim. Setiap hamba yang bersaksi bahwa Allah subhanallahu wata'ala adalah Tuhan yang Maha Esa dan Nabi Muhammad Sallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah subhanallahu wata'ala, kemudian mengamalkan ibadah wajib yaitu sholat maka mereka sudah tergolong menjadi seorang yang muslim. Banyak di sekitar kita orang muslim yang hanya mengaku agamanya muslim, kesehariannya tidak menunjukkan sifat seorang muslim yang menjalankan ibadah sholat. Perilakunya tidak memberikan keselamatan, ketenangan pada sekitarnya, maka yang demikian itu tergolong bukan orang muslim dihadapan Allah subhanahu wata'alaa.

Tingkatan selanjutnya adalah mukmin. Mukmin adalah hamba Allah subhanallahu wata'ala yang mengimani ke enam rukun iman. Mereka percaya dan yakin akan kehidupan akhirat. Sehingga rasa tersebut tercermin dalam segala tindak tanduknya  yang selalu memperhatikan baik buruknya. Pada tingkatan ini juga bisa jadi iman seseorang itu dusta atau munafiq. maka kita harus senantiasa berlindung pada Allah subhanahu wata'alaa atas godaan syaitan yang senantiasa membisikkan kefuturan dan kekufuran, naudzubillah.

Selanjutnya, orang yang mukmin akan meningkat setingkat lagi menjadi orang yang taat atau muttaqin, hamba Allah subhanahu wata'alaa yang bertaqwa adalah hamba yang senantiasa berusaha untuk meyakini dan mengamalkan segala keyakinannya itu dalam kesehariannya. Baik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Qur'an dan sunnah senantiasa menjadi pedoman dalam melangkah. Ketaatannya pada Allah dan Rosul senantiasa menghiasi setiap tindak tanduknya. namun lagi lagi, dalam hal ini masih banyak umat islam yang mengaku muslim, mukmin dan muttaqin, tapi segala amalannya masih mengikuti kata kyainya, syeikhnya yang sering kali tidak ada dasarnya, mengarang sendiri, yang kemudian beralasan "elek e opo". Padahal apa yang dilakukan itu jelas jelas tidak berdasar qur'an dan sunnah. Maka hama Allah yang muttaqin, yang lurus ketaatannya hanya kepada Allah subhanahu wata'alaa dan rosulnya adalah lebih dari hamba Allah yang muslim dan mukmin,

Lalu tingkatan diatas hamba yang muttaqin adalah hamba Allah subhanahu wata'alaa yang shodiq. Seperti pembahasan sebelumnya. ketaatan yang membawa keberkahan, kemuliaan dan keselamatan adalah ketaatan yang benar, yang berlandaskan qur'an dan sunnah.  Maka disinilah letak pentingnya "ngaji". Mempelajari Al Qur'an dan As Sunnah. Namun kebenaran yang dimaksud adalah benar atau sesuai antara hati, pikiran dan perbuatan, ketiganya haruslah selaras. Bukan ketika hati berkata A, otak berfikir B dan perbuatannya C. Jadi taat yang Allah ridhoi adalah ketaatan yang benar, benar apa yang dia rasa, apa yang dia fikirkan dan benar perbuatannya. Allah subhanahu wata'alaa berfirman dalam Qs. Al Hujurat ayat 15 : Sesungguhnya orang orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan RosulNya kemudian mereka tidak ragu ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang orang yang benar.

Dalam pengamalannya, hamba allah yang benar iman dan taqwanya, Allah subhanahu wata'alaa akan menguji dengan cobaan. Cobaan tersebut Allah berikan untuk menguji imannya benar atau tidak, taqwanya benar atau tidak. Maka tingkatan selanjutanya adalah hamba Allah yang sabar. Kesabaran yang dimaksud adalah tetap dalam Islam, Iman, Taqwa dan Benar. Dia sama sekali tidak goyah ketika harus mendapatkan ujian dari diri sendiri, keluarga, teman temannya, masyarakat. Tetap Allah dan Rosul menjadi penolongnya, keyakinannya itulah yang membuat dia senantiasa bersabar untuk tetap mengikuti jalan yang lurus, yaitu islam (Al Qur'an dan As Sunnah).

Setelah Sabar, tingkatan selanjutnya adalah Khusyu'. Hamba Allah yang khusyu' sudah pasti dia itu islam, beriman, bertaqwa, shodiq dan sabar. Kenapa ? karna mereka itu senantiasa yakin akan ada kehidupan akhirat dan dengan keyakinannya itu menghasung dia untuk senantiasa mentaati Allah dan RosulNya lalu bersabar atas apapun yang terjadi. Allah subhanahu wata'alaa berfirman dalam Qs. Al Baqarah ayat 45 - 46 : "Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang orang yang khusyu' ; yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.

kemudian dengan kekhusyu'annya itulah, menjadikan hamba yang satu ini meningkat lagi menjadi hamba yang gemar berinfaq, bersedekah, berbagi rizki kepada saudaranya yang membutuhkan, ikut andil dalam perjuangan dakwah islam. Allah subhanahu wata'alaa berfirman dalam Qs. Al Baqarah ayat 254 : Wahai orang orang yang beriman ! Infaqkanlah sebagian rezeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi syafa'at. Orang orang kafir itulah orang yang zalim.

Selanjutnya, setelah bersedekah yang merupakan amal sholeh amwal dengan harta benda, maka kemudian akan meningkat lagi untuk bisa menjadi hamba Allah subhanahu wata'alaa yang dapat beramal dengan anfus (jiwa) yaitu dengan menjadi hamba yang rajin berpuasa. Dan memang benar adanya dalam perjalana jihad fiisabilillah harta lebih didahulukan dari pada jiwa, seperti dalam firman Allah subhanahu wata'alaa Qs. As Saff ayat 11 : "Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RosulNya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui". Meskipun demikian antara harta dan jiwa tidak dapat dipisahkan, maka keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rosulnya. maka hamba Allah subhanahu wata'alaa yang berjuang tidak hanya dengan harta tapi juga dengan jiwanya ia akan lebih tinggi derajatnya disisi Allah subhanahu wata'alaa.

Tingkatan selanjutnya menjadi hamba Allah subhanahu wata'alaa yang beramal bi amwal (harta) wa amfus (harta) adalah hamba Allah yang senantiasa menjaga kehormatannya.  Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Qs. An Nur ayat 30 - 31 : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." ; Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau  budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dan salam sebuah hadits disebutkan, “Barang siapa yang bisa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan), dan yang ada di antara kedua pahanya (kemaluan) maka aku akan menjaminnya masuk syurga” (Muttaqun ‘alaih dari Sahl bin Saad radhiyallahu ‘anhu).

terakhir, tingkatan yang paling tinggi diantara yang lain adalah hamba Allah yang dia islam, juga beriman, bertaqwa, shodiq, bersabar, yang khusyu', rajin bersedekah dan berpuasa, lalu senantiasa menjaga kehormatannya serta selalu mengingat Allah subhanahu wata'ala (dzikrullah) atau dalam bahasa lain hamba Allah yang beristiqomah. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Qs. Fushilat ayat 30 : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” dan di ayat lain Allah subhanahu wata'ala juga berfirman dalam Qs. Al Ahqof ayat 13 - 14 : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” .

Begitulah ke sepuluh karakter hamba Allah yang kaffah, yang selalu berusaha menjadi yang terbaik diantara yang baik. Semoha kita senantiasa diberikan petunjuk untuk senantiasa istiqomah di jalanNya. Aamiin ya Rabb

Wallahu 'alam bisshowab.

Source Picture : www.inspirasi.co/lenterasukma

AM, Yogyakarta, 27 April 2017

Monday, April 24, 2017

Hikmah #19 - Kemuliaan Hidup Seorang Muttaqin


Bismillahirrahmanirrahim

Kita sebagai seorang hamba yang oleh Allah subhanahu wata'ala diberikan modal waktu, yang kita bebas menggunakannya, mari kita gunakan untuk meningkatkan ketaatan, ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata'ala.

Jangan sampai kita mencoba untuk hidup bebas meskipun sebentar. Karena segala sesuatu itu meningkat setingkat demi setingkat. Sehingga apabila ada perbuatan buruk terus dilakukan, maka yang buruk tersebut akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Berbeda dengan waktu itu kita gunakan untuk hidup taat. Senantiasa bersungguh sungguh dalam mentaati perintah Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi larangannya, menahan nafsu dunia, maka sungguh Allah subhanahu wata'ala telah berjanji akan membalas kita, mengganti segala kesabaran kit dalam taat tersebut dengan surgaNya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Qs. Al Imran ayat 15 : katakanlah "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian  itu ?" Bagi orang orang yang bertaqwa (tersedia) disisi Tuhan mereka surga surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai, mereka kekal didalamnya, dan pasangan pasangan yang suci serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba hambaNya.

juga dalam Qs. Ad Dzariyat ayat 15 : Sesungguhnya orang orang yang bertaqwa berada didalam taman taman (surga) dan mata air.

Subhanallah, betapa besar kasih sayang Allah subhanahu wata'ala.
Maka harus selalu kita ingat bahwa dunia ini ibarat setetes air yang diambil dari luasnya lautan samudra. Sangat tidak sebanding dari segala halnya. Apabila nikmat dunia ini diibaratkan sebesar sayap nyamuk saja maka Allah subhanahu wata'ala tidak akan memberi nikmat pada umat yang kafir. (naudzubillah). Berarti tidak hanya sangat sedikit tapi sangat tidak berharga kesenangan, kemewahan dunia ini. Maka tidak sepantasnya kita tergoda dan terlena oleh nikmat dunia sehingga melupakan kita pada kehidupan di akhirat.

Untuk itu hidup yang sementara ini kita manfaatkan sebaik mungkin, waktu yang sudah kita lewati tidak dapat diputar kembali. Waktu yang masih tersedia kita gunakan untuk memperbanyak amal sholeh, menuntut ilmu, mentadaburi Al Auqr'an dan As Sunnah, dengan kesungguhan dan keistiqomahan.

Setelah kita mengetahui ilmunya maka selanjutnya kita amalkan dalam kehidupan sehari hari, "isyhaduu biana muslimuun". Sehingga dengan begitu kita akan mendapatkan predikat Muttaqin oleh Allah subhanahu wata'ala. Hamba Allah subhanahu wata'ala yang paling mulia disisi Allah subhanahu wata'ala. Siapapun kita, apapun pekerjaan kita, di hadapan Allah subhanahu wata'ala kita adalah hamba Allah subhanahu wata'ala yang Muttaqin. Peneliti yang muttaqin, Ibu rumah tangga yang muttaqin, petani yang muttaqin, penjahit yang muttaqin, dan sebagainya.

Ciri orang yang muttaqin adalah "Muroqobatullah" (Senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata'ala). Dengan sifat ini hamba yang muttaqin akan senantiasa berhati hati dalam segala hal, ia akan selalu berfikir sebelum bertindak, ia selalu yakin akan ada kehidupan di akhirat yang nantinya segala amal perbuatan kita di dunia ini akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah subhanahu wata'ala. Semua perbuatan kita akan dibalas oleh Allah subhanahu wata'ala, di akhirat selamanya.

Maka dengan semangat ketaatan, ketaqwaan dan sifat muroqobatullah tersebut kana menjadikan hamba tersebut muslim yang kaffah, muslim yang secara keseluruhan menerima islam dan mengamalkannya. Tidak pilih pilih dalam belajar dan dalam pengamalan. Dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Semua ia kerjakan ikhlas hanya mengharap ridho Allah subhanahu wata'ala.

Harus juga selalu kita ingat bahwa kita dijadikan oleh Allah subhanahu wata'ala  sebagai seorang khalifah (pemimpin) baik pemimpin bagi diri kita masing masing, maupun bagi orang orang disekitar kita, yang kemudian kepemimpinan kita tersebut akan juga dimintai pertangungan jawab di akhirat kelak.

Hamba Allah subhanahu wata'ala yang bertaqwa akan senantiasa menyambut gembira setiap seruan kebaikan, bahkan tidak hanya amalan wajib, amalan sunnahpun mereka berlomba lomba untuk mengamalkannya (fastabiqul khoirot).

Ciri orang yang bertaqwa yang oleh Allah subhanahu wata'ala akan diberikan balasan surga dengan segala kenikmatannya (Qs. Al Imran ayat 15) adalah mereka yang senantiasa menginfaqkan hartanya dijalan Allah subhanahu wata'ala  dan senantiasa memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'ala. Allah subhanahu wata'ala  berfirman dalam Qs. Al Imran ayat 17 : (juga) orang orang yang sabar dan orang orang yang benar dan orang orang yang taat dan orang orang yang menginfaqkan hartanya dan orang orang yang memohon ampun pada waktu sebelum fajar (sahhur).

Ciri lain hamba Allah subhanahu wata'ala yang bertaqwa adalah :
1. Sedikit sekali tidur diwaktu malam (Qs. Ad Dzariyat ayat 17)
2. Pada akhir malam bangun dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'ala (Qs. Ad Dzariyat ayat 18)
3. Harta bendanya mereka infaqkan kepada kaum miskin baik yang meminta minta maupun yang tidak meminta minta (Qs. Ad Dzariyat ayat 19)

Sehubungan dengan point ke 3 tersebut, Allah subhanahu wata'ala juga berfirman dalam Qs. Al Munafiqun ayat 9 : "Wahai orang orang yang beriman ! Janganlah harta bendamu, anak nakamu melalaikan kamu dari mengingat Allah dan Barang siapa berbuat demikian maka mereka itulah orang yang rugi"

Allah juga berfirman dalam Qs. Saba' ayat 39 : Katakanlah "Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba hambaNya" Dan apa saja yang kamu infaqkan Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.

Apa yang telah Allah subhanahu wata'ala firmankan tersebut sungguh benar adanya.
Seperti yang telah Allah subhanahu wata'ala tegaskan dalam Qs, Al Baqarah ayat 2, bahwa semua firman yang telah Allah subhanahu wata'ala wahyukan dalam Al Qur'an ini adalah "Laa roiba fiih" tidak ada keraguan didalamnya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Hamba yang Muttaqin akan senantiasa mengisi setiap waktu dalam hidupnya dengan ingat dan taat pada Allah subhanahu wata'ala. Menjalankan segala amal sholeh ikhlas hanya mengharap ridho Allah subhanahu wata'ala. Senantiasa menata hati, membuka hati untuk tulus meneriman semua kebenaran dan tulus mengamalkan kebaikan. Tiada hari tanpa kebaikan.

Hamba Allah yang senantiasa merusaha membersihkan hati mereka, sungguh akan Allah subhanahu wata'ala selamatkan dari adzab neraka (kehinaan hidup di akhirat) dan sungguh akan Allah subhanahu wata'ala dekatkan pada surga (Qs. As Syu'ara ayat 89 dan 90)

Wallahu 'alam bisshowab.
AM, Yogyakarta, 25 April 2017

source picture : www.inspirasi.co/lenterasukma