Assalamu'alaikum ^_^

Yuk kita perbanyak membaca buku dan mendengarkan kajian, Let's Fastabiqul khoirot !

Saturday, January 4, 2014

Implementasi “EAT COCOA” (Edu Agro Tourism of COCOA) sebagai Pengembangan Desa Wisata Pertanian Kakao Organik di Kawasan Lereng Gunung Merapi

Oleh :
Abdul Malik, Hendri Yudha Winanto, Deni Muslifah
         Dosen Pembimbing : Nasih Widya Yuwono, S.P., M.P.     

Juara 2 Kategori Kreativitas Bina Mayarakat dan Mahasiswa Pertanian dalam Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2013 di ITB   

       Kakao merupakan komoditas pertanian yang utama dalam perdagangan dan merupakan sumber penerimaan devisa negara yang cukup penting. Salah satu komoditas perkebunan yang memberikan sumbangan devisa tersebut adalah kakao setelah komoditas karet dan kelapa sawit. Disamping itu komoditas ini memberikan kontribusi lapangan kerja bagi para keluarga petani, belum termasuk sektor industri, sektor pariwisata, sektor jasa dan sektor-sektor lainnya yang jumlahnya cukup besar.
Desa Tanen, Hargobinangun, Pakem, Sleman  merupakan desa yang saat ini sedang mengembangkan pertanian kakao. Berlokasi di kawasan lereng Gunung Merapi yang memiliki kondisi alam yang masih asri dengan suasana pengunungan sangat terasa, melengkapi indahnya lingkungan Desa Tanen. Terletak di dataran tinggi, di Jalan Kaliurang km 22 menjadikan Desa Tanen ini cocok untuk dibudidayakan tanaman kakao yang awalnya para petani banyak membudidayakan tanaman buah salak. Hal ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat petani disamping untuk membantu program pemerintah dalam rangka menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat.  Untuk selanjutnya masuk dalam tahap pembahasan masalah jenis usaha, maka  pada bulan juni 2006 sudah dimulai mengkonversi lahan buah salak menjadi buah kakao dengan mendatangkan benih dari Aceh.
Berdasarkan observasi dan riset yang telah kami laksanakan terkait pertanian kakao di Desa Tanen kami mendapatkan hasil bahwa sejak awal dimulainya budidaya tanaman kakao para petani belum mendapatkan hasil biji kakao yang maksimal selama 7 tahun yang terakhir. Mereka masih bertahan pada penghasil bahan mentah, belum dapat mengolah,  pemeliharaan tanaman seadanya  dan produksi kakao yang tidak menentu, hal inilah yang menyebabkan pertanian kakao kurang maksimal untuk dijalankan. Padahal melihat banyaknya potensi di lingkungan Desa Tanen dengan adanya peternakan sapi dan kambing, irigasi yang lancar dan lokasi yang terjangkau dari perkotaan, Selain itu juga keberadaan kelompok tani yang masih aktif dan terorganisir dengan baik, berpeluang untuk dioptimalkan melalui pemberdayaan masyarakatnya.
Melalui konsep “EAT COCOA” (Edu Agro Tourism of COCOA) memungkinkan adanya perubahan Desa Tanen dari desa yang biasa menjadi desa wisata pendidikan pertanian dengan komoditas unggulan kakao yang menyuguhkan berbagai hal yang menarik terkait komoditas kakao dan beberapa komiditas flora flori di Indonesia. Mulai dari teknik budidaya hingga pasca panen. Hal yang menarik dari konsep EAT COCOA  (Edu Agro Tourism of COCOA) ini adalah para pengunjung yang berlibur di Desa Tanen dapat menikmati indahnya suasana pedesaan dan pemandangan di lereng Gunung Merapi dengan menikmati produk-produk olahan asli hasil pertanian terutama hasil pertanian kakao dengan didukung banyak fasilitas yang akan disediakan, misalnya Villa, Taman, Outbond area. Disamping itu pengunjung juga dapat berkunjung ke Museum Gunung Merapi yang tidak jauh dari lokasi.
Diantara program yang akan dijalankan didalam konsep EAT COCOA (Edu Agro Tourism of COCOA)  adalah budidaya tanaman kakao organik, pengolahan limbah kakao sebagai pupuk kompos, pengolahan hasil pertanian kakao seperti pembuatan nata de cocoa, pengolahan fermentasi biji kakao, penerapan teknik perangkap lalat buah, budidaya flora dan floriculture, AFIF (Agri Fish Integrated Farming), dan  penanaman secara verticulture, aquaponic dan hydroponica. Implementasi EAT COCOA (Edu Agro Tourism of COCOA) tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan proses pemberdayaan masyarakat petani kakao yang terdapat di kawasan lereng Gunung Merapi dengan menjadikan Desa Tanen sebagai Desa Wisata Pendidikan Pertanian Organik, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani kakao dan masyarakat sekitar Desa tanen serta  juga dapat menjadi tempat wisata alam alternatif yang edukatif dan menarik untuk dikunjungi.

Dokumentasi :












No comments:

Post a Comment